Kamis, 20 Januari 2011

Sifat Submisif & Sifat Agresif

1. Sifat Submisif

Contoh kasus :
Atasan memanggil anda masuk dan ia tampak amat tidak senang. Ia baru saja menerima laporan dari salah satu manajer bahwa anda ternyata terlambat setengah jam saat menghadiri pertemuan penting antar departemen kemarin. Mereka amat kecewa karena anda telah menjatuhkan seluruh tim. Anda mulai menjelaskan duduk perkaranya, namun mereka menyatakan tak ada dispensasi untuk perilaku semacam itu. Anda menggumamkan permintaan maaf dan keluar secepat mungkin.

Dari contoh kasus di atas adalah prilaku submisif yang klasik. Daripada berisiko melakukan konfrontasi, kita menyerah pada godaan untuk mengambil jalan mudah. Jangan menjawab balik, jangan menentang atasan anda, malah sebaiknya dukunglah mereka. Perilaku submisif berarti mengambil upaya yang termudah, sehingga itu mencakup :

- Menyembunyikan perasaan anda
- Mengatakan hal-hal yangAnda pikir orang lain dengar
- Meminta maaf terhadap hal yang bukan kesalahan anda
- Lebih cenderung menerima tugas lebih banyak daripada mengatakan ’tidak’
- Membiarkan orang lain memanfaatkan anda

Dampak buruk sikap submisif ;
- Memedam perasaan dapat mengarah pada ketidak puasan, kemunduran motivasi, dan stres akibat pekerjaan
- Pada sebagian orang, mereka memendam persaan begitu lama. Suatu saat, perasaan itu dapat meledak dalam bentuk agresif yang membawa kerugian tersendiri
- Menekan perasaan akan membawa kita pada rasa benci dan sakit hati terhadapnya kita bersikap submisif
- Kalau kita tidak pernah secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan, akan banyak gagasan terbaik kita yang tidak diketahui oran banyak.
- Selalu mengalah kan membuat anda amat kesulitan mengambil resiko atau mengajukan gagasan kontroversial yang bisa menghasilkan rasa hormat, penghargaan, dan promosi.
- Meminta maaf terhadap sesuatu yang bukan kesalahan anda akan memberi kesan bahwa anda memang bersalah
- Kita bisa menghindari beban kerja yang terlalu banyak dengan mampu mengatakan ”tidak”, dan dengan tidak mengizinkan orang lain memanfatkan sikap baik kita yang berlebihan.




2. Sifat Agresif

Contoh kasus :
Atasan memanggil anda masuk dan ia tampak amat tidak senang. Ia baru saja menerima laporan dari salah satu manajer bahwa anda ternyata terlambat setengah jam saat menghadiri pertemuan penting antar departemen kemarin. Mereka amat kecewa karena anda telah menjatuhkan seluruh tim. Saat mendengar ini, Anda marah karena itu bukan kesalahan anda. Manajer yang mengundang rapat mengubah jadwal tanpa alasan da pesan itu tak pernah sampai kepada anda. Anda menghadap atasan dan mengeluhkan tingkah manajer itu, juga menyesalkan sikap atasan yang menganggap anda melakukan hal tersebut tanpa alasan kuat. Lalu, anda marah-marah.

Dari contoh kasus diatas, sebagian dari kita berlaku agresif karena mersa hal itu akan membuat kita mendapatkan apa yang diinginkan. Sebagian dari kita melkuakannya saat katup tekanan akhirnya meledak, akibat terlalu lama bersikap submisif. Lalu apa yang membuat kita mendapatkan apa yang diinginkan ?
- Mngatakan secara jujur pada orang lain apa yang kita pikirkan dan bukan memendam perasaan
- Mengajukan gagasan kita, kalu perlu dengan mengorbankan perasaan orang lain
- Menyuruh orang lain pergi ketika mereka mencoba memanfaatkan kita
- Mengintimidasi orang lain dengan menaikan nada suara kita dan menggunakan bahasa yang menyerang atau mengancam

Sekali menampilkan perlaku demikian, orang dapat terus khawatir akan adanya sncaman sikap agresif, seperti yang pernah kita tunjukan.

Akibat dari sikap Agresif terhadap anda :
- orang lain mungkin enggap memberitahuakan banyak hal pada anda karena khawatir denagn tanggapa agresif.
- Anda akan mendapatkan reputasi yang tak menyenangkan di kalangan rekan kerja, bawahan, atasan, ataupun manajer lain.
- Jika anda terlalu memaksakan gagasan sendiri, orang yang merasa kesal mungkin akan menolak gagasan itu karena sentimen pribadi, tanpa memedulikan kualitas gagasan anda.
- Jika kita bersikap ofensif atau menyakiti orang lain, mereka pun akan cenderung ofansif terhadap kita.
- Berbicara dengan intonasi mengintimidasi atau tak menyenagkan saat berurusan dengan orang lain sama artinya denagn lebih sering berdebat dan berkonflik.

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda